Malam itu warung kopi sepi, cuma ada dia sama aku. Jilbabnya ketat, badannya semok, matanya genit ngelirik. “Bang, aku lagi bete sama suami,” katanya sambil nyenggol paha. Aku langsung paham, ini sinyal. Kami ngobrol santai, tapi tanganku udah nakal nyentuh pinggangnya. Dia cuma tersipu, nggak nolak. Besoknya langsung ajak ke kosan, katanya pengen coba yang beda. Di ranjang, jilbabnya masih nempel, roknya naik, pantat bulatnya keliatan. Aku olesin pelumas, dia pasrah banget, “Masukin aja, pelan-pelan ya…”


